Anak adalah Anugerah terindah yang kita dapat dan miliki


Terkadang saat kita mendapatkan anak, banyak hal yang perlu kita pelajari dari cara kita berbicara pada anak, berinteraksi dengan anak, bagaimana kita menggali apa yang anak itu pikiran, apa yang akan di butuhkan dari kita sebagai orangtuanya.

Belum tentu yang kita berikan adalah terbaik dan cocok untuk anak kita sendiri. Contoh kecilnya, saat si anak butuh perhatian khusus atau bermain sambil dia mengenal lingkungannya, ia ingin bertanya, ia ingin mengajak orangtuanya bermain, berbicara, interaksi, komunikasi dengan bahasanya, tapi pada saat yang bersamaan orangtua sibuk dengan urusannya sendiri. Waktu yang sangat tepat berbicara dengan sang anak setiap saat dia butuh teman bicara, teman main, apa kita siap untuk itu? Bukan pembantu, babysitter, supir yang mengurus mereka, yang mengantarkan mereka, yang mendidik mereka, yang menjadi ibu dan bapak kandung mereka, TAPI kita sebagai orangtuanya, kita yang mandiin mereka, kita yang menyuapi mereka, kita yang mengurus mereka juga kita yang mendidik mereka. Bayangkan kalau kita tua nanti, apa kita tidak ingin diurus anak kita sendiri atau malah relakah kita saat nanti tua, anak kita menyuruh pembantu memandikan kita, anak kita menyewa babysitter untuk menemani kita berbicara, atau malah kita dilempar ke panti jompo???

Mengurus anak dengan mengurus tanaman atau bahkan peliharaan kita, benar-benar berbeda. Anak adalah salah satu aset kita untuk dunia dan akherat, dia yang akan membawa kita ke surga atau neraka. Dari mereka lah kita akan melihat betapa indahnya akherat kita saat kita benar-benar mau memelihara mereka dari kecil. Bagaimana orangtua bisa menahan diri mereka untuk kepentingan pribadi dan bisa dekat dengan mereka, bagaimana orangtua bisa membuang pekerjaan kantornya demi menemaninya bermain sebentar, bagaimana orangtua bisa memeluknya saat mereka butuh kehangatan, bagaimana orangtua bisa menjadi sahabat saat mereka terbentur masalah, bagaimana orangtua bisa menjadi ayah sekaligus ibu didalam satu kondisi saat yang satu tidak ada, bagaimana orangtua mengingat hari ulang tahun mereka, bagaimana orangtua mengingat hari-hari penting untuk mereka, bagaimana orangtua bisa menjadi semangat saat anak itu jatuh dan bagaimana orangtua bisa mengantarkan mereka menjadi anak-anak sholeh/a disaat orangtua mereka sudah tidak ada.

Apakah kita sebagai orangtua sudah sanggup melakukan semua hal itu? Dan apa kita sanggup membuang dunia kita demi kehidupan mereka yang penuh dengan warna?

Pekerjaan guru ataupun dosen, belum tentu bisa se perfect mengajar anak murid dan anak sendiri, belum tentu juga apa yang mereka ajarkan kepada anaknya sendiri itu benar. Anak adalah salah satu cikal bakal orang yang akan menjadi salah satu pengharum kuburan orangtuanya, menjadi air yang dingin saat orangtuanya sudah tiada. Sanggupkah kita berubah sedikit demi sedikit demi mereka???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: