Yanti Jahja


Nama panjangnya Damayanti Chamaryah Jahja, biasa dikenal dengan nama Yanti Jahja. Sejak lahir tidak pernah mengenal kasih sayang Ayah nya, selalu merindukan sosok Ayah nya. Walaupun terkadang kakak-kakaknya pun menggantikan posisi tersebut tapi takkan pernah sama apa yang ia rasakan. Waktu didalam kandungan 3 bulan, Ayahnya telah meninggal dunia dan sejak itu pula ia hanya diurus oleh Bunda Sjahrizan.

Beliau lahir di Kotogadang, 3 Maret 1943. Setelah itu beliau menginjak SD di Kotogadang. Kotogadang adalah salah satu kota kecil yang terletak di pegunungan, dekat Bukittinggi, Sumatera Barat. Beliau adalah anak terakhir dari 9 saudara kandung, anak ke 21 dari Ayahanda Jahja Dt Kayo.

Beliau sejak kecil mempunyai rambut keriting, mata yang sipit hampir seperti orang cina, tapi kulitnya hitam maka terkadang beliau dikenal dengan nama samaran “Amoy Hitam”.

Beliau merantau ke negri Jakarta dengan kapal laut, saat itu beliau masih duduk di bangku SD. Berempat dengan Bundanya dan kakak-kakaknya, akhirnya beliau merasakan menginjakkan kaki nya di tanah Batavia atau sekarang lebih dikenal Jakarta.

Mulai sejak SD, beliau dimasukkan ke dunia Senam oleh Bundanya, lalu berangsur SMP, beliau mengenal Gymnastic. Berangsur-angsur akhirnya beliau mengenal Ballet. Pada saat itu, beliau suka sekali menari-nari. Lalu pada bangku SMA, beliau sekolah di SMA 1 Budi Utomo, dimana saat itu beliau juga menekuni basket di Indonesia Muda.

Beliau mengenal dunia olahraga, yang membawanya mengenal negara luar. Beliau bertanding membawa nama Indonesia pada tahun 1955, berkeliling mengelilingi negara Asean dengan Indonesia Muda nya saat itu.

Beliau bukan orang yang cerdas masalah pelajaran, tapi beliau adalah salah seorang wanita yang mengagumi olahraga sejak kecil. Dari Senam, Gymnastic, Ballet lalu Basket. Pada saat kuliah, beliau mendaftar di Universitas Indonesia jurusan Sastra Cina. Yup, mungkin juga karena tampangnya seperti orang Cina. *xixixi…* Tapi pada saat itu, jurusan tersebut hanya beberapa orang lalu tidak dibuka angkatan tersebut.
 Akhirnya beliau diharuskan pindah ke jurusan lain, saat itu yang beliau pilih adalah jurusan Hukum.

Beliau mungkin tidak banyak mengenal teman-teman di kuliah nya, karena beliau sibuk dengan urusan Ballet dan Basket nya yang menjadi salah satu trend pada masa itu.

Tak banyak yang mengenal sosoknya, beliau hanya wanita yang mencintai olahraga dan anak bungsu dari keluarga Jahja. Kakak-kakaknya yang jauh diatasnya terkadang tidak menghiraukannya. Hanya beberapa saja yang masih tetap mendukung hidupnya saat itu.

Beliau bekerja disalah satu perusahaan Jepang, Toyota Astra di Tanjung Priok, pada tahun 1970an hingga akhir 1980, beliau dikenal dengan sosok yang tidak bisa diam ditempat. Selalu bergerak namun mungkin beliau sosok yang sulit ditemukan.

Pada tahun 1974, beliau menemukan pasangan sejatinya seorang dokter muda bernama Emil Taufik. Mereka berdua datang dari kampung yang sama bernama Kotogadang. Dan hingga saat ini, mereka masih tetap bersama.

Hingga pada tahun 1981, beliau mempunyai anak perempuan. Dan menjadi anak satu-satunya beliau. Menuruni beberapa sifat yang hampir sama, orang yang tidak bisa diam ditempat, selalu mempunyai ide-ide yang hampir sama.

Kisah beliau ini terkadang yang memilukan, dengan perjuangannya yang amat keras di masa lalu, saya bangga mempunyai ibunda seperti beliau. Di umurnya yang hampir 60 tahun, beliau masih tetap bisa berlari mengelilingi lapangan Senayan, mungkin jarang orang yang sepertinya. Kekuatannya hingga saat ini, tidak berkurang sedikitpun. Diumurnya yang menginjak 67 tahun, dengan mata kepala saya sendiri beliau masih mampu berlari mengelilingi lapangan bola Blok-S, tidak berhenti selama 5 putaran. Mungkin saya sendiri tidak mampu seperti itu, itu yang sampai saat ini saya kagumi.

Berhenti diumurnya yang 69 tahun, beliau sudah memilih untuk jalan kaki mengitari lapangan Blok-S, tapi walaupun demikian, saya pikir jarang orang yang seumurnya dapat melakukan hal yang sama seperti beliau.

Diumurnya yang sudah menjajaki 70 tahun, dengan kemampuannya sendiri beliau masih tetap semangat untuk pergi bolak-balik ke luar kota, walaupun dengan umurnya yang sudah tergolong tua, beliau tetap tidak pernah bisa diam. Sebagai anaknya, saya kagumi beliau sebagai salah satu sosok wanita yang AMAZING, saya harap cucu nya dapat menuruni kekuatan yang beliau miliki.

I Love you, Mom… Cheers, your only lovely daughter.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s