Become an Artist part 1


Saya dibesarkan di keluarga yang sangat sederhana, dulu saat teman-teman saya punya uang jajan 1000, saya masih dapat 100, saat saya naik jadi 1000, mereka sudah dapat 10000, iri? pastinya, dulu saya sangat menahan rasa dalam hati, karena rasa takut saya dengan orangtua terlalu dalam sehingga tidak bisa saya lontarkan apa yang saya inginkan… sehingga cuma bisa melihat dan memandang saja dari jauh. Berlanjut saat masuk kuliah, saya kosong. Hampa. Tidak tau harus berbuat apa, bidang apa yang harus saya masuki, terlebih karena anak tunggal, semua harus saya kuasai sendiri. Dari bela diri, balet, basket, menjadi olahragawan, menjadi seniman, sekaligus menjadi orang yang akan selalu ada dirumah saat pembantu pulkam. 

Berkali-kali pindah kuliah saya masih tidak bisa merasakan hal apa yang saya gemari dan ingin saya perdalam, masuklah saya dibidang perfilman dimana saya mengenal puluhan orang bekerja menjadi satu tim, kuping rasanya panas begitu mendengar ratusan makian yang sopan sampai kebun binatang, dimaki-maki atasan walaupun bukan kesalahan kita, sudah biasa. Saya menyukai dunia itu, bukan karena saya suka maki-maki orang tapi terlebih karena saya menikmati momennya. 

Pulang shooting bukan tidur, saya kembali lagi berkutat didepan komputer, dimana saya bisa belajar edit film, motong film, belajar bagaimana film itu bercerita dan tidak bisa lepas dari komputer (just info : saya mengenal online sudah dari tahun 1995 akhir SMP memasuki SMA, karena sudah mulai chating dan lain sebagainya). Mulai dari buka foto di ACDsee lalu Photoshop, Illustrator, Premiere, semua software yang ada. Berlanjut lagi saya sering experiment dari software yang ada, buka HELP, mulai experiment dari yang salah sampai benar.

Mulai menyukai bidang film, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi kameraman karena dari kecil saya sudah terbiasa memegang kamera foto, tapi begitu ketemu dosen saya (which is my hubby now), dia cuma bilang, “kamu ga akan berhasil di kamera, matamu silinder nanti kamu ga akan bisa lihat garis lurus” setelah mendengar kata-katanya aku cuma terdiam, seperti biasa tidak dapat ekspresikan diri saya, ntah karena takut atau memang terdidik demikian. Well, mundur lagi? Nope, kali ini saya bertahan di perfilman, walaupun hanya menjadi orang yang mengajari dosen saya (which is my hubby) otak atik komputer dengan segala teknologi software agar bisa membuat film lebih mudah diselesaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s