Kekuatan Doa


Detik-detik Allah menjawab doaku…

Ketika kulihat doa yang kupanjatkan pagi siang sore akhirnya dapat kulihat sendiri, Allah melabuhkan hatiku pada orang yang lebih memilih kembali kerumah setelah aktifitas dan mengerjakan sholat setiap azan berkumandang, tetesan air mataku tak dapat tertahan ketika ia lebih memilih untuk diam, menatapku tajam lalu tersenyum dan seakan meyakinkanku dengan kata-kata Tidak, bukan waktunya saat ini. Jika memang kau tidak mencintaiku karena Allah, Allah takkan rela mengirimkanku serta hatiku yg tulus dan ikhlas bertemu denganmu.

Saat aku bertanya dia melawan dan menatapku tajam, “Apa perlunya kau menanyakan isi hatiku berkali-kali? Tidak cukupkah sekali kau pertanyakan itu?” seperti marah karena terlalu bising dengan pertanyaanku. Tentu saja bagi kaum hawa, dia menginginkan kejujuran dan keterbukaan yang tulus ikhlas. Jika memang sama doa ku dan doa nya, maka kita akan bertemu kelak disaat semua siap pada waktunya.

Dahulu selalu kuingatkan untuk sholat tapi dia mengelak lalu membuat pernyataan marah karena selalu diingatkan, aku tetap setia mendoakannya walau tanpa kutau doa ku ternyata dikabulkan, dia yang lebih mengingat Allah sekarang, air mata ku keluar bahagia melihat itu. 

Sekarang aku yakin, kenapa Allah mempertemukan kami dengan segala lika liku kehidupan, dengan begitu kami mampu bertahan dalam satu terpaan angin yang kencang. Aku yakin ketika doa kami bersahutan, begitu juga didekatkannya hati kami berdua walau banyak halangan didepannya. 

Ya Allah, aku mencintai ciptaanMu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, aku mencintainya dengan segala kebohongan yang dia ucapkan demi kebahagianku pikirnya, aku mencintainya dengan segala gemetar hatinya saat berada didekatku, aku mencintai tatapannya yang mengandung cinta untukku, aku mencintainya dengan segala kebaikannya memanjakanku, aku mencintainya dengan segala kesabarannya menemaniku, aku mencintainya walaupun kutahu kegelisahan hatinya setiap kali mengingatku, aku mencintainya karena dia telah lama memendam rasanya padaku, aku mencintainya karena kecintaannya kepadaMu yang membuat aku bertahan. Kumohon lupakanlah rasa rinduku, rasa sayangku, rasa cintaku, sampai saat dimana Allah telah ridho menyatukan kami nanti dengan ikatan yang suci. Dan apabila dia bukan yang terbaik menjadi Imam ku kelak, aku yakin Kau akan dengan sebentar saja menghapus namanya didalam doaku di Ka’bah dan di setiap sujudku.

“Hanya kamu yang ada dalam doaku di Ka’bah dan disetiap sujudku dan cuma kamu yang kuharap menjadi Imamku dan anak-anakku.” -cuma kamu-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s