When I Wake up


  Kisah memilukan ini akhirnya kuakui sendiri bahwa aku pernah mengalaminya dengan jangka waktu yang cukup lama, tidak bisa dibilang sebulan dua bulan, tapi 8 tahun.

Awal mula saya berteman dengannya, sosok pria yang lumayan lah dibanding yang lain, agak aneh, pemikirannya terlalu teoritis yang terkadang membingungkan tapi aku mengaguminya.

Antara berteman, sahabat atau lebih dekat lagi itu mungkin hanya perasaanku saja, tak mengerti bagaimana sebaliknya dan ntah lah aku juga tidak mengerti.

Tentu dari kekagumanku ini akhirnya penasaran, jiwaku adalah petualang yang tidak mungkin mengulik satu masalah dan bertahan didalamnya, banyak masalah yang diciptakan dengan berbagai irama yang berbeda-beda, tapi aku menyukainya. 

Muncul ketika aku terjatuh dari pohon, lalu mencari obat merah yang mungkin akan didapati darinya, ternyata aku salah,  masalah yang kubawa kali ini benar membuatnya tak siap untuk bertahan dengan situasiku, ntah harus dibilang sebagai teman, sahabat atau bahkan musuh.

Dari berbagai masalah-masalah yang kuhadapi, aku kembali pada titik nol yang kuakui sangat rentan, sangat membuat gelisah, bahkan aku mengalami bolemia, insomnia, sampai harus menelan beberapa obat baru aku bisa merasakan tertidur.

Saat berada di titik nol, aku hanya mengharapkannya menjadi seorang teman penghibur, walaupun kutau banyak sekali pekerjaan duniawi yang membuatnya terpojok sampai harus berteriak pada orang lain agar aku menyingkir. Membuatku merasakan bagaimana rasanya berada di titik nol, lalu dibenamkan lagi jauh kebawah hingga berada di titik poin negatif.

Bingung harus berkata apa, aku cuma bisa membenamkan diri didalam sujud dan doaku, membaca Al-quran pun menjadi hobi, walaupun terkadang kubaca artinya tapi tak dapat kunikmati apa rasanya sehingga aku tidak merasakan apa-apa.

Satu yang membuatku terpukul, sedih, kecewa, diam.

Kenapa di saat aku membutuhkan, di saat itu pula aku merasakan diinjak, dihina, ditekan, ntah harus dibilang teman, sahabat ataupun musuh. Dari kejauhan tetap kudoakan agar dia bisa tersenyum setelah menjatuhkan dan membenamkan aku di lumpur yang sangat dalam, kupikir dia bisa menjadi sosok yang positif tapi ternyata dia NOTHING.

Sampai saat aku masih beranjak naik, aku tersadar ternyata penilaianku tentang dirinya hanya sebatasnya saja, untuk melupakannya pun aku tak sanggup dan mungkin hanya Allah yang dapat menghapus semuanya untukku dan saat itulah kuharap sudah dapat berdiri tegap dengan dua kakiku yang rentan. 

Bukan! Bukan dia yang terpojok, justru aku yang merasakannya. Bukan! Bukan aku yang Batu, tapi dia yang seperti BATU tak memahami keadaan. Bukan! Bukan dia yang tidak suka, justru Aku yang MUAK semuanya terjadi disaat aku di posisi paling bawah. 

Kuharap kau dapat membaca semua keluh kesahku yang tak dapat kusampaikan langsung padamu karena saat ini kamu telah melemparku jauh ke ujung dasar laut, kuharap kamu bahagia pada apa yang kamu ucapkan dan membuatku semakin tertekan, bukan kamu yang terpojok, justru aku yang kamu buat terpojok dan seperti tidak ada apa-apanya di dunia. Kuharap kamu bebas lepas tertawa, saat kamu tau aku tidak akan pernah bersinar lagi seperti dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s