Sejarah Waterleiding Kotogadang


Screenshot_2017-11-09-18-25-34_1_1-216x300Waterleiding itu biasa dikenal dengan Air Ledeng. PDAM. Pada tahun 1933 diresmikan oleh Tuan Fanoy dan Tuan Cator.

Pada masa lalu, orang berusaha mendatangkan air ke Kotogadang dengan pembuluh bambu (batung). Tahun 1892 mereka membawa air dari Ganting dengan pembuluh besi. Pekerjaan ini mulanya berhasil baik. Air yang dialirkan itu dapat diminum dan dipakai orang Kotogadang, namun kebahagiaan itu hanya berjalan kira-kira 2 sampai 3 tahun saja sebab sesudah itu air tidak datang lagi. Akhirnya, pembuluh bambu dijual dan uangnya dipakai untuk pengganti atap mesjid.

Pada tanggal 19 Juli 1918, dalam rapat nagari, bertepatan dengan hari raya, Yahya Datuk Kayo Demang Payakumbuh menggagas untuk memperbaiki kesehatan umum anak nagari yang pada masa itu cukup mengkhawatirkan. Gagasan tersebut mendapat dukungan dari peserta, salah satunya adalah ahli kesehatan mata Dr. Syaaf. Menurutnya, air pada saat itu yang digunakan masyarakat kurang baik bagi kesehatan terutama kesehatan mata. Karena maksud dan tujuannya mulia, usaha perbaikan kondisi air minum ini secara cepat mendapat sokongan dan bantuan dari semua anggota masyarakat. Air dari Bulakan Batupai di kaki Gunung Singgalang akan dialirkan melalui pipa besi sepanjang 4500 meter. Saat itu juga dibentuklah suatu badan yang diberi nama Komite Waterleiding.

Pada tahun 1919 terkumpullah uang untuk membiayai proyek yang diperkirakan menelan biaya f11.000 dari proyek yang bernilai f20.000. Terhenti ketika berita dari Tuan CH E Sayers, Asisten Residen Agam, bahwa Gemeente Bukittinggi berencana akan mengalirkan air dari Bulakan Batupai, yang dapat dimanfaatkan oleh warga Kotogadang. Yang hasilnya tidak pernah terwujud sampai tahun 1924.

Tahun 1931, Asisten Residen Agam Tuan AI Spits meminta Sutan Perpatih, Demang Bukittinggi, mengadakan rapat dengan Komite Waterleiding menyangkut proyek yang satu ini.

Pada Bulan April 1932, diadakan rapat gabungan antara Komite Waterleiding, ninik mamak penghulu nan 24, dengan pejabat pemerintah, Tuan Cator, Kumendur Agam Tua, Demang Bukittinggi dan asisten Demang IV Koto. Bulan Agustus 1932 atas anjuran Tuan Kontrolir Cator barulah cita-cita Waterleiding mulai direalisasikan. Kekurangan modal diatasi dengan pertolongannya, yaitu setelah mendapat pinjaman dari Passarfonds Fort de Kock sebanyak f6.000.

Pada tanggal 30 Januari 1933, proyek waterleiding diresmikan. Persyaratan Kotogadang untuk disebut menjadi semacam “kota” lengkaplah sudah. Ada listrik, waterleiding dan jalan lengkap dengan nomor rumahnya.

Dikutip dari Buku “Kotogadang” penulis Azizah Etek, Mursjid AM, Arfan BR

IMG_3978

Waterleiding is commonly known as Air Ledeng. PDAM. In 1933 was inaugurated by Mr. Fanoy and Mr. Cator.

In the past, people tried to bring water to Kotogadang with bamboo (batung) vessels. In 1892 they brought water from Ganting with iron vessels. This work initially worked well. The drained water can be drunk and used by the Kotogadang people, but the happiness only runs about 2 to 3 years because after that the water does not come again. Finally, bamboo vessels are sold and the money is used to replace the roof of the mosque.

On July 19, 1918, in a nagari meeting, to coincide with the feast day, Yahya Datuk Kayo Demak Payakumbuh initiated to improve the general health of nagari children who at that time quite alarming. The idea has the support of the participants, one of whom is a health expert. Syaaf. According to him, the water at that time used by society is not good for health especially eye health. Because of its noble purpose and objectives, the efforts to improve the conditions of drinking water are quickly gained support and assistance from all members of the community. Water from Bulakan Batuupai at the foot of Mount Singgalang will be streamed through a 4500 meter long steel pipe. At that time also formed a body named Waterleiding Committee.

In 1919 money was raised to finance a project estimated to cost f11,000 from a project worth f20,000. Dismissed when news from Mr. CH E Sayers, Assistant Resident of Agam, that Gemeente Bukittinggi plans to drain the water from Bulakan Batupai, which can be utilized by Kotogadang residents. The results never materialized until 1924.

In 1931, Assistant Resident Agam Tuan AI Spits asked Sutan Perpatih, Demang Bukittinggi, to hold a meeting with the Waterleiding Committee concerning this one project.

In April 1932 a joint meeting was held between the Waterleiding Committee, ninik mamak penghulu nan 24, with government officials, Mr. Cator, Kumendur Agam Tua, Demang Bukittinggi and assistant Demang IV Koto. In August 1932 at the suggestion of Mr. Kontrolir Cator then the ideals of Waterleiding began to be realized. Lack of capital is overcome with the help, that is after getting a loan from Passarfonds Fort de Kock as much as f6.000.

On January 30, 1933, the waterleiding project was inaugurated. Kotogadang requirements to be called into a kind of “city” complete already. There is electricity, waterleiding and road complete with his house number.

Quoted from the book “Kotogadang” author Azizah Etek, Mursjid AM, Arfan BR

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: