RinDhea part 7 (Seven) True Story (Kisah Nyata)


Sebelum gue lanjutin nih ceritanya… Pembaca harus membaca dari Part 1 (One) dulu ya, jadi ga ada yang bertanya lagi ketika sudah masuk di part ini…
Buka link dibawah ini :

Novel RinDhea

Flashback 2010

Akhirnya Dhei menyetujui akan membantu dengan semua surat-surat yang sudah dibawa ke gue, tanpa syarat apapun Dhei membantu proses pembelian rumah kredit, waktu mau akad kredit, Dhei datang kerumah dan menandatangani semua surat perjanjian dan surat kuasa agar gue bisa memakai nama dia untuk urusan akad kredit.

Satu bulan berlalu…

Setelah dipikir-pikir, gue batal mau beli rumah kredit, gue pikir buat apa gue beli rumah lagi, toh gue bisa pakai rumah yang tidak terpakai oleh orangtua gue kok, ga jauh juga lokasi nya, sesuai dengan apa yang gue butuhin, gue datang lagi ke Dhei dan mengembalikan semua surat-surat tersebut tanpa ada yang ketinggalan satu pun.

“Beneran Nad, lo ga butuh ini semua?”

“Ya bang, kayaknya gue mundur aja.”

“Terus DP nya gimana, kan ga bisa kembali?”

“Ga papa bang, gue sudah mutusin untuk tidak meminta nya lagi.”

“Jadi sekarang gimana?”

“Gue cuma mau nanya aja sama lo bang, dengan sebanyak ini pertolongan lo ke gue, lo yakin ga bisa nikahin gue?”

“Nad, butuh dijawab lagi?”

“Ya, gue mau dengar untuk terakhir kalinya jawaban dari lo.”

“Lo tau gue sayang banget sama lo Nad, tapi gue ga tau kapan bisa nikahin lo, Nada.”

“Lo ga tau kapan atau emang lo ga mau nikahin gue?”

“Untuk sekarang, ga bisa, ga tau kedepannya.”

“Ok, gue ambil kesimpulannya lo ga mau nikahin gue ya bang, case close?”

“Ya terserah apa tanggapan lo, buat gue, gue akan tetap sayang sama lo sampai kapanpun, sampai kapanpun dan lo ga perlu tau itu kedepannya.”

“Tapi anterin gue pulang ya, buat terakhir kalinya?”

“Sampai kapanpun, gue akan nganter lo pulang.”

Flashback 2012

Sejak perpisahan gue dengan Dhei saat itu, gue ga tau lagi kabar dia, apapun tentang dia, gue memutuskan untuk menerima lamaran teman kuliah gue untuk menikah, sudah hampir setahun lebih gue menikah dengan dia, tapi Tuhan menyudahi perjodohan gue, gue sama dia ga lama menikah lalu kita bercerai.

Pulang dari sidang perceraian gue, tiba-tiba gue keinget mau nelfon Dhei saat itu tapi gagal. Gue ga jadi menghubungi dia, gue kembali ke kehidupan gue sendiri dengan anak cantik gue yang sudah beranjak besar.

Akhir tahun, gue memutuskan untuk umroh dan berangkat.

Di Mekkah, muka orang yang pertama kali gue kenang, setelah kedua orangtua gue dan anak gue, cuma Dhei. Gue ga bisa bohong ke diri gue sendiri, gue masih sangat sayang sama dia, walaupun gue tau yang bisa menyambung antara jiwa gue dan dia hanyalah DOA. Karena cuma Doa yang bisa gue kasih buat dia, terserah dia mau mendoakan gue juga ataupun tidak.

2016

Sekian lamanya gue benar-benar ga tau kabar Dhei, lebih tepatnya gue ga mau tau tentang dia, muncullah artikel tentang film layar lebar baru. Awalnya gue ga mau tau, tapi ada yang unik dari ceritanya. Ini tentang mafia cina, gue yakin banget ini ada hubungannya sama Dhei, tapi apa, karena sebelumnya yang gue tau, Dhei sangat anti untuk popularitas, dia lebih memilih untuk menjadi orang di belakang layar, tapi untuk kali ini, gue yakin ini karya dia.

Gue cari sinopsis nya, gue tonton trailer film nya, gue cari siapa penulis skenario nya, benar dugaan gue saat itu, itu salah satu hasil dia.

Ya benar itu dia, feeling gue ga bisa salah! Apapun tentang Dhei masih sangat familiar di hati gue, bohong kalau gue ga mau tau tentang dia, ini dia, Dhei. “Orang yang selalu ada dibelakang lo, Nad! Ga mungkin lo bisa memalingkan muka jika tau itu ada hubungannya dengan Dhei.” Oh Tuhan, harus dengan cara apa lagi gue lupain dia, dengan cara apa lagi Tuhan???

Sudahlah! Lupakan ego gue sebentar saja, coba telfon Dhei kali ini mungkin itu akan mengobati semua perasaan gue ke Dhei.

“Halo… bisa bicara dengan bang…” omonganku terputus, gue langsung disambut dengan nada bicara yang familiar

“Nada? ini Nada kan? ya ada kok, sebentar ya!” ok, gue tau ini ibu nya, suara nya ga pernah berubah, ga lama Dhei angkat dengan nada bicara datar tidak seperti dulu.

“Ya Nad, kenapa?”

“Bang, film lo masuk…”

“Ya, emang kenapa?”

“Oh Ga papa, gue cuma pengen kasih selamat, akhirnya…”

“Ya! Makasih! Udah?” Gue langsung diem, kok gini caranya, dia kenapa, dia lupa sama gue? dia ga mau tau lagi atau sudah ada yang lain? ah ya sudahlah, ga penting telfon gue sekarang buat dia.

“Oh ok, makasih, sukses buat lo deh bang!” jawaban gue ikutan ketus dan banting telfon.

Damn!!! Bullshit? Ah Damn… WHY???

Saat itu gue bingung kenapa Dhei jadi berubah, apa yang membuat dia jadi seperti tidak kenal, tidak mau tau, ah Dhei andaikan saja lo tau perasaan gue saat lo ketus sama gue, gue nangis berminggu-minggu dikamar sendirian, sedih dan kecewa dengan diri sendiri.

Akhir tahun 2016

Gue memutuskan untuk datang kerumah Dhei, saat dia ada dirumah. Sambutan dia sangat berbeda ketika ditelfon, gue sempat nanya sama dia, kenapa dan dia sampai saat ini tidak pernah mau cerita lagi tentang hal itu. Tak lama kemudian, kita memutuskan untuk bicara diluar rumah dan berjalan beberapa meter dari rumah dia untuk cari makan, sekalian mengantar gue pulang.

Waktu masuk rumah makan itu, gue diem dan sempat melihat gerak gerik dia, gue cuma diem dan ga pesan apa-apa, dia cuma bilang sama gue, “Pesen tuh!”

Ada 3 orang laki-laki duduk didepan warung dan menghadap ke gue, mungkin maksud mereka bercanda tapi ternyata raut wajah Dhei saat itu tidak suka, dia berjalan kedepan warung dan duduk didepan gue persis. Sikap nya menunjukkan dia menghadang laki-laki itu ada kontak sama gue, gue sempat bingung melihat keadaan itu tapi gue bersikap cuek dan ga mau tau, gue sambil minum es teh, gue tetep lihat gerak gerik nya.

Entahlah saat itu dia mau apa, apa yang mau ditunjukkan ke gue, gue bersikap baik sama dia, tapi apa yang dia lakukan ke gue itu JAHAT!!! Kenapa dia jadi bersikap dingin, seakan ga kenal sama gue atau lebih tepatnya ga mau tau sama gue, apa dia lupa dia pernah bilang, “sampai kapan pun Nad, gue sayang sama lo!” apa dia lupa kata-kata itu pernah disebut sama dia.

Setelah habis es teh, gue keluar, dengan ketus gue bilang ke dia, “Cariin gue taksi!”

Muka Dhei berubah jadi kaget, mungkin dia juga tidak akan menyangka sikap gue akan lebih galak dari dia, dia ga akan pernah menyangka juga kalau gue akan seperti itu.

Tangan Dhei menstop taksi, dia buka pintu belakang dan dia suruh gue duluan masuk ke taksi, gue pikir dia akan duduk didepan, ternyata dia duduk persis disebelah gue. Perasaan gue langsung tak menentu, dalam hati gue, “Ternyata Dhei masih sayang sama gue, tapi gue terima apapun sikapnya, karena gue tau kasih sayang dia tidak akan bisa menikah sama gue, gue ngerti alasan dia karena gue mantan sahabatnya. Enough! Gue ga bisa maksa dia tapi gue bahagia dengan apa yang dia ucapkan dulu “Gue akan tetap sayang sama lo Nad sampai kapanpun!” itu dia lakukan.

Didalam taksi, gue lihat persis mimik wajahnya, tangannya, cara dia bersikap ke gue, Dhei bersikap sama seperti dulu, mungkin dia memilih bersikap agak berbeda karena dia tidak bisa memberikan satu pernikahan pada hubungan kami, tapi gue menerima itu. Gue menerima keputusannya.

“Bang, boleh gue tidur dipangkuan lo?”

“Boleh Nad, sini.” Sikap dia memang seperti itu, gue yakin sampai kapan pun dia akan bersikap seperti itu ke gue, karena prinsip dia tidak mau mengkhianati persahabatannya dengan mantan gue, dia juga mencintai gue, dia harus berkorban seperti itu. Saat itu gue mensyukuri apa yang gue dapatkan, gue menikmati perjalanan pulang gue walaupun itu hanya 90 menit didalam taksi sama Dhei.

Saat itu terjadi, gue ga tidur, gue senang bisa tiduran dipangkuan dia, tangannya pun memeluk tangan gue, gue tau saat itu dia mau bilang, “Dia juga merasakan hal yang sama kayak gue, walaupun itu hanya sementara.” walaupun hal itu tidak keluar dari mulut nya.

Dhei mengelus rambut gue saat dipangkuannya, ya benar dia memperlihatkan sama gue, sebegitu dalam pengorbanan perasaan dia untuk gue, “Andaikan gue bukan mantan dari sahabatnya” hanya itu yang bisa gue bayangin, tapi Tuhan berkata lain, Dhei tidak akan pernah mengingkari apa yang menjadi prinsip dia. Gue berharap dia dapat membuat dunia lebih indah, saat nanti fisik gue tidak akan pernah bisa menemani dia, tapi gue yakin Doa gue dan Dhei akan selalu tersambung dalam jiwa dan hati.

“Bang, makasih ya sudah sayang sama gue.”

“Apa sih Nad, masih mau dibahas yang dulu lagi?” Gue ga jawab apa-apa, gue cuma senyum ke Dhei, sekarang gue mengerti kenapa dia berlaku itu sama gue, walaupun gue tau apa yang gue rasakan belum tentu sama seperti apa yang dia rasakan. Tapi itulah Kehidupan, Hidup itu Misteri kata Dhei, “Biarkan Misteri itu menjadi tanda tanya, karena tidak perlu dijawab.”

Saat taksi itu berhenti, gue bilang sama Dhei, “Gue turun disini ya bang?”

“Ntar lah, tunggu aja teman mu menjemputmu” Dia melingkari tangan nya di bahuku, gue tau arti dari jawaban dia.

“Ya bang, kita tunggu didalam taksi aja.”

Tak lama kemudian teman ku menjemput, aku keluar, mencium tangan Dhei waktu berpisah, dia mencium keningku dan mengusap kepala ku, sambil mengakhiri perpisahan,

“Hati-hati ya Nad, jaga dirimu baik-baik, abang pulang ya?”

“Ya bang, hati-hati ya!”

Kalau saja hal itu dapat terulang kembali, jujur gue ga mau melepaskan lo pergi Dhei, gue kangen situasi itu.

2017

Hubungan gue dan Dhei membaik dari tegang menjadi silaturahmi walaupun pada akhirnya kita memutuskan untuk menjaga hubungan baik. Gue akhirnya bisa melepaskan Dhei dengan prinsip nya, gue akhirnya bisa menyudahi tanda tanya gue dengan prinsip dia. Gue bersyukur, hubungan gue dan dia baik-baik saja, walaupun kita masih saling mencintai, tapi Cinta tak harus memiliki.

Gue menelfon Dhei saat itu, gue menyampaikan akan menikah lagi dengan orang baru yang juga Dhei kenal baik, tapi bukan mantan gue.

“Bang, aku mau menikah!”

“Ya Nad, baik-baiklah sama dia. Dia adalah pilihan terbaik mu, sayangi dia dan cintai dia.”

Sampai saat ini, hubungan Dhei dan gue baik-baik saja, saat dia ulang tahun tanggal 19, gue ga pernah lupa kasih selamat dan kirim sedikit kenangan buat dia. Gue bersyukur pernah kenal sama Dhei, hubungan kita pun masih bersilaturahmi dengan baik, gue berharap saat dia baca ini nanti, dia pasti akan tersenyum.

Buat gue, kisah Dhei tidak akan pernah tamat, itu akan terbawa sama gue sampai akhir hayat ku, nanti ketika anak-anak ku besar, gue akan selalu cerita tentang lo Dhei, mungkin lo adalah cinta sejati gue yang ga pernah akan gue miliki, tapi apa yang lo lakukan ke gue, bang Dhei… itu menjadi kisah romantis ku sampai nanti.

Semoga kamu baik-baik saja disana, jaga dirimu juga bang, lo tau sampai kapanpun, gue akan selalu mengingat lo, Dhei.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: